Rabu, 19 Desember 2018
Selasa, 21 Agustus 2018
The Old Man and The Sea - Ernest Hemingway
#Ulasan2018
Kisah seorang nelayan tua yang tak pernah mujur mendapatkan tangkapan yang sesuai. Hingga suatu ketika ia memutuskan berlayar sendiri, sampainya di tengah ia cukup beruntung, umpannya langsung di sambar ikan. Dia tak tau seberapa besar ikan tersebut, karna ikan tsb hanya berputar - putar dibawah kapal nya, ia harus tetap menjaga ikan tersebut dibawah kendalinya. Tombak yang tersambung oleh tali sudah ia siapkan, tugasnya sekarang adalah saat ikan naik ke permukaan air, ia harus segera menghunuskan tombaknya dan menarik tali yang terhubung. Dan ia memang sudah berhasil mengarahkan tombaknya, tapi sayangnya ikan ini cukup kuat, ia masih tenang bertahan berputar-putar di sekitar perahu, sesekali ia memberikan perlawanan dengan berenang sesukannya dan mencoba mengendalikan perahu hingga ke tengah laut. Dengan harapan pak tua akan menyerah atas tingkahnya. Tapi Pak Tua juga tetap gigih mempertahankan talinya, meskipun terkadang lengannya terasa kram, bahkan ia sampai tak merasakan sakitnya. Lantas ia merasa menyesal kenapa tadi tidak mengajak anak muda itu berlayar bersamanya, mungkin ia bisa menungkan air ke lengan tempat talinya bersarang.
Kondisi ini berjalan dari matahari terbit hingga senja mulai menghilang, Pak Tua juga harus berfikir jernih. Jika terus menerus dibiarkan ia akan mati konyol, meskipun pada akhirnya si ikan itu juga akan mati di dasar laut. Dan ego si Pak Tua memang terlalu tinggi, ia tak mau dikalahkan oleh sang ikan. Lantas usaha apa yang akan dilakukan Pak Tua untuk dapat mengalahkan si ikan tersebut? kalaupun ia sudah bisa menaklukan si ikan, apakah ia bisa kembali pulang dan melihat daratan?
Buku ini mengajarkan bahwa jika kamu sudah terjun untuk melakukan sesuatu, kamu harus menyelesaikannya sampai akhir. Bukan malah memilih berhenti di tengah jalan. Walaupun di penghujung usahamu, yang kau harapkan bahkan tidak berpihak padamu. Setidaknya proseslah yang justru memberikan banyak pembelajaran.
Hmmm ga bisa bayangin, jika memang aku sendiri yang ada diposisi pak tua itu.
~~o~~
Minggu, 08 Juli 2018
Ode To Roy
#Ulasan2018
Ini bukan novel atau buku tapi lebih pada pengalaman atau efek yang ditimbulkan dari membaca buku Balada Si Roy. Bagaimana Roy menjadi inspirasi banyak orang, khususnya bagi mereka yang membaca cerita Balada Si Roy di majalah "HAI" kala itu. Roy menjadi role model tahun 80'an dengan menenteng carier warna biru, sepatu gunung, dan kemeja kotak kotak. Banyak remaja kala itu yang bergaya seperti Roy, bahkan ada yang sampai melakukan perjalanan, menumpang dari satu transportasi ke transportasi lainnya. Bagaimana Roy mencoba mengatasi permasalahan yang ia alami dengan kondisi yang seperti itu.
Bagiku membaca cerita dari para pembaca BSR membuatku semakin penasaran untuk membaca bukunya langsung, dan ingin menyelami imajinasi dari cerita yang disuguhkan.
"Ya, hiduplah melawan arus untuk sampai ke hulu. Jangan mengikuti arus untuk sampai ke muara. Karena kenikmatan hidup adalah terletak pada bisa tidaknya kita keluar sebagai pemenang" (Balada si Roy, Avonturir)
"Pergilah, Nak. Jelajahi dunia. Cari apa pun yang kalian inginkan. Puaskan dengan semua pengalaman. Dewasa kan dirimu dengan beragam kesusahan. Tapi, kalian akan tetap dimanjakan dengan semua kebaikan Tuhan"(Pergi untuk Kembali)
The Book of Almost - Brian Khrisna
#Ulasan2018
Kumpulan ungkapan seseorang, lebih tepatnya seperti diary orang patah hati. Oh tidak semuanya tentang patah hati, tetapi lebih pada merelakan dan mencoba untuk bangkit kembali. Setidaknya masa lalu bukan untuk dilupakan tapi sebagai pengingat bahwa dulu dirinya pernah hadir dan bahkan mengisi hari harimu sebelumnya.
Mungkin singkatnya isi buku ini seperti itu, oh ya kalau baca buku ini baiknya pas lagi senggang dan usahakan tiap bagian aja, pas lagi nunggu temen, yaudah baca 1 bagian, lanjut tutup dan baca pas lagi senggang lagi.
Dijamin feel-nya bakal lebih dapet ketimbang kamu baca buku ini sekali waktu dan langsung tandas. Karna tiap par punya rasa yang berbeda.
Selasa, 15 Mei 2018
Gintajali - Febrialdi R | @edelweisbasah
#Ulasan2018
Ed bisa dibilang seorang pengelana, sudah tak terhitung lagi jumlah gunung yang pernah ia tapaki.
Selain menjadi seorang penjelajah, ia juga bekerja menjadi juru cuci atau asisten daput di sebuah restoran. Beruntungnya ia bertemu dengan Ine wanita berpendidikan, seorang dosen yang sedang melanjutkan pendidikan S3nya, dan sekaligus menjadi pacar dari Ed. Meskipun Ed sadar dan terkadang merasa sangat tidak pantas untuk bersanding dengan Ine, semua kekhawatiran yang ia rasakan membuatnya takut untuk bertemu dengan orang tua Ine, karna memang dia tau bahwa keluarga Ine tergolong keluarga terpandang dan berpendidikan tinggi semua, bahkan rumah yang Ine tinggali sangatlah mewah. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan Ed, ia hanyalah lulusan D3, Studi S1 belum ia tuntaskan lantaran kegiatan petualangannya.
Permasalahan muncul saat Ine meminta kejelasan dari hubungan yang sedang mereka jalani. Ed merasa ya hubungan yang seperti ini, saling nyaman dan tak saling menuntut satu sama lain. Tapi bukan jawaban seperti itu yang diharapkan Ine, yang ia mau adalah Ed menuntaskan studinya dan berhenti untuk membuat - buang waktunya dengan percuma.
Namun sikap keras kepala yang Ed miliki membuatnya semakin emosional, bahkan tak ada kesimpulan dari perbincangan mereka berdua.
Seminggu tak berkabar, hinggan berganti bulan mereka sudah tak saling berkabar satu sama lain.
Sampai sebuah kecelakaan hebat menimpa Ed yang menyebabkan ia koma dan tak sadarkan diri selama 2 minggu. Bahkan Ine tak menjenguknya, ah rasa - rasanya hubungan yang mereka jalani memang sudah berakhir. Sama - sama keras kepala, dan saling menunggu siapa yang akan menghubungi untuk memulai kembali. Tak hanya koma, bahkan Ed diperhentikan dari pekerjaannya, meskipun dengan pesangon yang bisa dibilang cukup. Orang yang menjemputnya adalah Dicky, salah satu rekan penggiat alam dan sudah beberapa kali mendaki bersama. Sampai sebuah ide konyol muncul, "sepertinya kamu butuh liburan" ucap Dicky pada Ed yang kala itu bingung untuk melanjutkan hidup, mau cari kerja? kondisi belum memungkinkan.
Setelah mempertimbangkan akhirnya Ed setuju untuk melakukan perjalanan, dan ia akan melakukan pendakian Seven Summit Indonesia sebagai ajang pembuktian untuk Ine dan Kedua orang tuanya.
Lalu apakah Ed akan mampu untuk menuntaskan misinya dan kembali pada Ine? atau justru ia memilih untuk berhenti dan hanya beberapa gunung saja yang ia tuntaskan? Dan makna apa yang akan ia dapat selama perjalanan?
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Buku ini membuat saya jadi merenung, sebenarnya perjalanan yang sering saya lakukan selama ini itu untuk apa? sebagai ajang pembuktian? atau memang benar - benar karna ingin dekat dengan-Nya. Ah rasa - rasanya sekarang kumulai sadar makna dari perjalanan yang selama ini aku lakukan, luruskan niat dulu, dan jangan lupa selalu melibatkan-Nya dalam setiap saat kamu mulai melangkah.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
"Yang pergi akan tetap pergi
Yang hilang akan tetap hilang
Yang datang dan pergi, mengajarkan kita seberapa tabah dapat mengikhlaskan diri"
(Bagian 4, Hlm.29)
"Beberapa orang lebih dulu diberi rasa takut memulai untuk menghadapi.
Padahal tidak semua keputusan datang untuk kesekian kali" (Bagian 19, Hlm. 165)
"Barangkali kita terlalu sibuk mencari - cari jawaban untuk pertanyaan yanh sebenarnya tak ada" (Bagian 22, Hlm. 189)
Langganan:
Postingan (Atom)




