Social Icons

Senin, 31 Oktober 2016

Mawar Jepang - Rei Kimura

#Ulasan2016





Kisah pilot kamikaze perempuan yang dibungkam dalam sejarah.
Berawal dari kepergian Hiro, adik laki - lakinya, Sayuri memutuskan untuk terlibat dalam perang yang semakin melemahkan posisi Jepang. Ia menjadi perawat bersama dengan sahabatnya di dalah satu rumah sakit di Tokyo. Perang pun menelan banyak korban, termasuk adik dan sahabatnya. Terbalut dalam amarah dab dendam yang memuncak, Sayuri bersumpah untuk membalaskan kematian orang - orang yang dicintainya dengan menjadi pilot kamikaze. Dengan segala upaya ia menyamar sebagai laki - laki dan berhasil mewujudkan keinginannya itu. Pada hari Sayuri siap menabrakkan pesawatnya ke target musuh, semuanya berubah dan bahkan mengubah nasibnya.

"Jangan hidup dalam aib.
Jangan meninggal dengan cara yang akan meninggalkan aib bagi namamu.
Semangat luhur untuk mengorbankan diri harus menjadi penuntunmu melewati hidup dan mati.
Jangan pikirkan kematian ketika kau berusaha dengan segenao tetes tenagamu untuk memenuhi tugasmu.
Jangan takut mati demi keadilan abadi"  (Hal 155)

Sabtu, 29 Oktober 2016

Konspirasi Alam Semesta - Fiersa Besari

#Ulasan2016




Ana Tidae putri dari Shinta Aksara yang sepak terjangnya di dunia musik hingga berhasil keliling Eropa bermodalkan suara emasnya. Bertemu dengan Juang Astrajingga, pemuda dengan penampilan kumal, dengan rambut ikal seleher yang hampir lusuh. Mereka dipertemukan karna Juang yang profesinya sebagai wartawan dan ingin mengangkat sepat terjang mendiang Ibu Ana Tidae.

Di sisi lain, Juang dibesarkan di keluarga yang pragmatis yang senantiasa mesti tunduk pada Orde dulu, bahkan semua keluarganya terseret dan di cap komunis. Meskipun ia tau bahwa ayah dan ibunya tidak pernah milih untuk berada di kiri atau kanan. Hinaan yang di dapatnya sejak kecil dari teman sekitarnya berakibat pada hukuman dan sang ayah, sikap keras kepala dari Juang hingga ia tumbuh dewasa membawa pertengkaran pada ayahnya dan berujung pada kepergian Juang dari rumah.

Bukan hanya itu, atas kecintaannya berpetualang. Surel yang sejak lama dinantinya, akhirnya memberi kabar baik untuk Juang, tentang ijinnya meliput hingga pelosok negeri di ujung timur sana.
Bukan hanya liputan wisata yang sudah duluan memukau wisatawan, tapi juga polemik masyarakat yang ingin memerdekan diri dari Indonesia. Hal itulah yang membawa ia dan temannya ke dalam bahaya yang mungkin akab membekas diingatannya kelak. Terasingkan, hingga 3 bulan tak ada kabar.
Lantas apa yang akan dilakukan Juang untuk Ana Tidae, tidakkah ia akan berdamai dengan Ayahnya?

"Puncak gunung seperti cita - cita. Saat kita memulai perjalanan, kita harus berdoa sebelum melangkah. Di perjalanan, kita terjatuh dan bangkit berulang. Kita menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya dalam perjalanan menuju puncak. Dan jika kita gagal,..... bukan berarti perjuangan selama perjalanan sia - sia. Kita belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik" (hal.26-27)

Rabu, 26 Oktober 2016

Pejalan Anarki - Jazuli Imam

#Ulasan2016







El,mahasiswa angkatan 2008 yang merasa 'tersesat' di kampus ekonomi swasta terbaik se-DIY & Jateng, pencetak banyak lulusan cumlaude, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Pembangunan Internasional atau yang lebih dikenal dengan nama PI. Pilihan El yang menolak 'main aman' dan kerap melawan, akhirnya membuatnya mendapat cap sebagai mahasiswa urakan, tak bermasa depan, dan tentu tak menyenangkan untuk dijadikan teman di sekolah ekonomi yang notabene dikenal sebagai kampus borjuis.

Berawal dari keterlambatannya di mata kuliah ekonomi makro Bu Ani. Bu Ani menjadi salah satu dosen dan bahkan bisa dibilang musuh bebuyutan El, keterlambatan El memang sudah melewati batas waktu toleransi yang telah disepakati di kelas. Tapi El memaksa untuk masuk dan meminta ijin kepada Bu Ani untuk mengikuti perkuliahannya. Namun memang yang sejak awal Bu Ani yang tidak suka dengan El, justru kemarahan dan umpatan akan penampilan El membuat El diusir dari kelas beliau. Bukan El kalau tidak melawan, menurutnya permasalan penampilannya tidak ada hubungan dengan Bu Ani, dan ia berhak juga mengikuti perkuliahan, karna itu adalah hak mahasiswa. El pun keluar, dengan diikuti Sekar, Ketua HMJ di kampusnya yang tadi juga telat datang.

Namun Bu Ani berbeda anggapan, menurutnya Sekar dan El saling berkoalisi untuk membuat malu Bu Ani. Kampus menjadi gempar setelah kejadian tersebut, bagaimana tidak? seorang Sekar, ketua HMJ, cerdas, cantik, digosipkan berkoalisi dengan El, mahasiswa UKM teater, urakan, arogan, idealis, pendaki gunung, dan susah diatur. Kejadian itu membuat Sekar risih dan mulai mengajak El untuk meminta maaf ke Bu Ani. Awal dimana Sekar mulai mengenal El yang justru bertolak belakang dari anggapan teman - teman di kampusnya.

Sekar mulai mengenal El dari semua tulisannya diblog milik El, disana sekarang mendapatkan arti yang beda mengenai El dengan bagaimana pandangannya dalam melewati kejadian. El lebih jeli, Sekar merasa tertampar setelah membaca sebagian catatan El, dari yang paling sederhana yang belum pernah ia lakukan, tetapi justru seorang El sering melakukannya. Ya, El memang kritis, dengan idealisnya. Wajar kalau ia berhasil mengalahkan kawan - kawan HMJ Sekar dalam debat tahunan terakhir. La wong dia bergaulnya di desa - desa, di lereng gunung, di pasar tradisional, dan semacamnya. Uniknya selain kreatif, pikirannya terbuka, dengan konsep ekonomi yang ia dapatkan di bangku perkuliahan dia saring dan dikawinkan dengan nilai - nilai Pancasila. Beda halnya dengan kawan - kawan Sekar yang hanya teori angka - angka dan hafalan ekonomi - ekonomi internasional.
Lantas bagaimana hubungan El dan Sekar? apa ia akan berurusan dengan El? atau justru membuat El semakin dikucilkan dari dosen - dosen di kampusnya?

"Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi sesorang yang berjalan di atas kakinya sendiri. Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seseorang yang berkeputusan dengan kepalanya sendiri. Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seorang yang mendapatkan kekuasaan atas tubuhnya sendiri"(Hal.20)

"Pada dasarnya adalah sesuatu yang kuat dan berdaya dengan raga, akal, dan pikirannya, hanya saja kekuatan itu tidak pernah atau jarang sekali digunakan, sebab kehidupan modern dengan berbagai sarana, fasilitas, dan segala bentuk kebiasaan manja yang ada di kota telah membuat kekuatan dan kreativitas manusia tertidur semakin lama. Mendaki Gunung dan melakukan hal - hal di luar titik nyaman adalah salah satu upaya untuk mebangun kekuatan sejati manusia"(Hal.225)

"Nikmatilah jeda, terlalu banyak keindahan yang terlewatkan dalam ketergesa - gesaan"(Hal.375)

"Jika bumi adalah kertas kosong, maka gunung laut pepohonan adalah puisi, dan manusia adalah secangkir kopi, yang sebagian hidup menghidupi puisi, sebagian lagi tumpah tak peduli"(Hal.387)

Senin, 24 Oktober 2016

Bara - Surat Terakhir Seorang Pengelana - Febrialdi R

#Ulasan2016





Bara, seorang lelaki muda, pendaki gunung, relawan Basarnas, sekaligus seorang penulis kisah - kisah petualangan di media massa. Latar belakang keluarga yang berantakan membuat hidupnya menjadi keras, liar dan mandiri. Setelah neneknya meninggal, ibunya pergi entah kemana, dan ayahnya dipenjara. Akhirnya ia hijrah dari Indramayu ke Bandung. Melanjutkan SMA, melanjutkan kuliah, dan memulai menyusun kembali mozaik kehidupannya.

Setelah beberapa tahun tinggal di Bandung, ia bertemu dengan seorang perempuan. Kirana namanya, gadis inilah yang membuat semangat Bara untuk terus melanjutkan impian dan cita - cintanya menjadi jurnalis terkenal. Namun setelah satu setengah tahun lamanya musibah menghampirinya. Kirana meninggal karna kecelakaan. Hidupnya berubah sejadi - jadinya, seliar - liarnya, seperti orang yang tak punya arah dan tujuan. Sampai akhirnya semua sahabatnya mengungkapkan unek - unek atas perubahan sikapnya, sepeninggalnya Kirana. Bara semakin acuh - tak acuh bahkan kemarahan selalu memuncak jika sahabatnya menyinggung tentang kematian kirana. Butuh waktu lama untuk Bara kembali pada kehidupan sebelumnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh sebagai cara ia mengalihkan pikirannya tentang Kirana. Mendaki gunung, menyusuri sungai, mengunjungi pantai, dan segala bentuk kegiatan alam bebas menjadi aktivitas rutin setiap harinya. Dan pada suatu ketika Pak Tatang menawarkannya untuk bergabung menjadi relawan Basarnas, agar hidupnya menjadi seimbang. Bukan lagi melakukan perjalanan untuk bersenang - senang, tapi lebih pada tugas kemanusiaan.

Setelah dirasa cukup melakukan perjalanan, Bara memutuskan untuk kembali ke Bandung. Ia mulai membuka lagi hatinya untuk seorang perempuan. Hingga suatu ketika ia mulai dekat dengan Inoy, wanita berhijab yang tak pernah lupa menanyakan keadaan Bara, baik itu masalah skripsi, pekerjaannya, bahkan sudah makan atau belum? Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi semakin dekat, tak jarang mereka saling berpamitan jika hendak berpergian jauh. Tepat di hari ulang tahun Inoy, baru sedang melakukan perjalanan ke Garut untuk mencari bahan cerita yang akan dimuat di media cetak, tetapi musibah dialami Inoy. Sony item, preman yang dulu pernah adu fisik dengan Bara masih menyimpan dendam kesumat memberi kado terindah untuk Inoy di hari ulang tahunnya dan menjadi ingatan yang membekas untuk Bara.

"kalo kita menganggap bahwa hidup adalah proses pembelajaran dan pembetulan, maka masa lalu akan menjelma menjadi tangga - tangga emas yang akan mengantarkan kita menyongsong masa depan"(Hal. 162)

"Sejatinya di setiap kita ada sifat gunung yang takabur dan kesombongan. Dan kepada gunung dan hutan rimbalah ......, kita semua belajar mengenal aku dan ke-aku-an"(Hal. 320)

"Janganlah kamu membawakan eldeweis untuk orang yang kamu cintai. Tetapi ajaklah dia ke tempat dimana bunga itu tumbuh dan bersemi. Sebab cinta itu seperti eldeweis. Hidup abadi di dalam hati, jika dicabut dia akan mati"(Hal.365)

Jumat, 21 Oktober 2016

Titik Nol - Agustinus Wibowo

#Ulasan2016



Agustinus seorang anak keturunan Tionghoa yang menuntut ilmu ke negeri seberang demi menggapai mimpinya keliling dunia. Menjadi mahasiswa di Universitas Tsinghua dengan diisi mahasiswa mahasiswi genius dari penjuru dunia, ritme yang terlalu cepat,tekanan belajar yang tak mengenal henti, tentu tak semua mental kuat menghadapinya. Hampir semua mata kuliah menggunakan bahasa mandarin. Kesulitan yang dihadapi Agustinus menjadi berlipat, karna ia harus belajar bahasa mandarin lebih dalam untuk bisa menyerap materi perkuliahannya, sampai-sampai berat badannya turun hingga 7Kg. Tapi semangatnya untuk menggapai mimpi tak pernah luntur dan akhirnya ia bisa lulus dari Universitas ternama tersebut dengan peringkat dan nilai yang memuaskan.

Bahkan setelah lulus ia ditawari beasiswa S2 untuk melanjutkan studinya, tetapi jalan lain yang dipilihnya adalah berkeliling ke negara - negara tetangga untuk lebih mengenal negara yang dikunjunginya. Melewati jalur darat bukan semudah itu, ia harus melewati berkali - kali pemeriksaan visa, kecopetan, fantasi negeri dari Film yang mendunia dan luluh lantah dengan realita yang ia liat menggunakan mata kepalanya sendiri, serta penyakit Kuning yang dideritanya. 

Perjalanan mengejar mimpi, disisi lain Mamanya terserang penyakit Kanker dan bahkan ia tak tau berapa persen harapan hidup mamanya.
Lantas apa yang akan dilakukan Agustinus, apakai ia akan melanjutkan perjalanan untuk mengejar mimpinya ke ujung Afrika atau berhenti dan kembali ke Tanah kelahirannya?

"Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang - orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan"(Hal. xi)

"Lepaskanlah segala sesuatu justru saat kau masih menikmatinya, sebelum mencapai titik jenuh ketika kenikmatan itu malah berbalik arah menjadi kebosanan, penolakan, penyangkalan, kebencian"(Hal.270)

"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, ke pada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang" (Hal.531)
 
Blogger Templates